Sabtu, 02 Januari 2016

PERBEDAAN ANTARA KLENTENG DAN VIHARA

KLENTENG
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f5/Klenteng_Jin_De_Yuan%2C_Glodok%2C_Jakarta.jpg/300px-Klenteng_Jin_De_Yuan%2C_Glodok%2C_Jakarta.jpg
Klenteng atau kelenteng (bahasa Hokkian: miao) adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia pada umumnya. Dikarenakan di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional Tionghoa sering disamakan sebagai penganut agama Konghucu, maka klenteng dengan sendirinya sering dainggap sama dengan tempat ibadah agama Konghucu. Di beberapa daerah, klenteng juga disebut dengan istilah tokong. Istilah ini diambil dari bunyi suara lonceng yang dibunyikan pada saat menyelenggarakan upacara.
Kelenteng adalah istilah “generic” untuk tempat ibadah yang bernuansa arsitektur Tionghoa, dan sebutan ini hanya dikenal di pulau Jawa, tidak dikenal di wilayah lain di Indonesia, sebagai contoh di Sumatera mereka menyebutnya bio; di Sumatera Timur mereka menyebutnya am dan penduduk setempat kadang menyebut pekong atau bio; di Kalimantan di etnis Hakka mereka sering menyebut thai Pakkung, pakkung miau, shinmiau. Tapi dengan waktu seiring, istilah ‘kelenteng’ menjadi umum dan mulai meluas penggunaannya.
Klenteng bagi masyarakat Tionghoa tidak hanya berarti sebagai tempat ibadah saja. Selain Gong-guan (Kongkuan), Klenteng mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan komunitas Tionghoa dimasa lampau.

ASAL MULA KLENTENG
Klenteng dibangun pertama kali pada tahun 1650 oleh Letnan Kwee Hoen dan dinamakan Kwan Im Teng 觀音亭. Klenteng ini dipersembahkan kepada Kwan Im(觀音dewi pewelas asih atau Avalokitesvara bodhisatva Dari kata Kwan Im Teng inilah orang Indonesia akhirnya lebih mengenal kata Klenteng daripada Vihara, yang kemudian melafalkannya sebagai Klenteng hingga saat ini. Klenteng juga disebut sebagai bio yang merupakan dialek Hokkian dari karakter (miao). Ini adalah sebutan umum bagi klenteng di Republik Rakyat Tiongkok.
Pada mulanya, klenteng adalah tempat penghormatan pada leluhur "Ci" (rumah abuh) atau dewa, masing-masing marga membuat "Ci" untuk menghormati para leluhur mereka sebagai rumah abuh. Para dewa-dewi yang dihormati tentunya berasal dari suatu marga tertentu yang pada awalnya dihormati oleh marga mereka. Seiring perkembangan zaman, penghormatan kepada dewa-dewi yang kemudian dibuatkan ruangan khusus yang dikenal sebagai klenteng yang dapat dihormati oleh berbagai macam marga, suku. Di dalam klenteng bisa ditemukan (bagian samping atau belakang) dikhususkan untuk abuh leluhur yang masih tetap dihormati oleh para sanak keluarga masing-masing. Ada pula di dalam klenteng disediakan tempat untuk mempelajari ajaran-ajaran atau agama leluhur seperti ajaran-ajaran KonghucuTaoisme, dan bahkan ada pula yang mempelajari ajaran Buddha. Klenteng selain sebagai tempat penghormatan para leluhur, para dewa-dewi, dan tempat mempelajari berbagai ajaran, juga digunakan sebagai tempat yang damai untuk semua golongan tidak memandang dari suku dan agama apapun.
Klenteng adalah sebutan umum bagi tempat ibadat orang Tionghoa sehingga klenteng sendiri terbagi atas beberapa kategori yang mewakili agama Taoisme , Konghucu , Buddhisme , Agama Rakyat atau Sam Kaw yang masing-masing memiliki sebutan tempat ibadat yang berbeda-beda

KLENTENG VS VIHARA PADA ORDE BARU
Pada masyarakat awam, banyak yang tidak mengetahui perbedaan dari klenteng dan vihara. Klenteng dan vihara pada dasarnya berbeda dalam arsitektur, umat, dan fungsi. Klenteng pada dasarnya beraritektur tradisional Tionghoa dan berfungsi sebagai tempat aktivitas sosial masyarakat selain berfungsi sebagai tempat spiritual. Vihara berarsitektur lokal dan biasanya mempunyai fungsi spiritual saja. Namun, vihara juga ada yang berarsitektur tradisional Tionghoa seperti pada vihara Buddhis aliran Mahayana yang memang berasal dari Tiongkok.
Perbedaan antara klenteng dan vihara kemudian menjadi rancu karena peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Imbas peristiwa ini adalah pelarangan kebudayaan Tionghoa termasuk kepercayaan tradisional Tionghoa oleh pemerintah Orde Baru. Klenteng yang ada pada masa itu terancam ditutup secara paksa. Banyak klenteng yang kemudian mengadopsi nama dari bahasa Sanskerta atau bahasa Pali yang mengubah nama sebagai vihara dan mencatatkan surat izin dalam naungan agama Buddha demi kelangsungan peribadatan dan kepemilikan, sehingga terjadi kerancuan dalam membedakan klenteng dengan vihara.
Setelah Orde Baru digantikan oleh Orde Reformasi, banyak vihara yang kemudian mengganti nama kembali ke nama semula yang berbau Tionghoa dan lebih berani menyatakan diri sebagai klenteng daripada vihara atau menamakan diri sebagai Tempat Ibadah Tridharma (TITD)

VIHARA
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNhWql6Y57mwNKq_dQ4ZHvGorR_6t1cL0dw2XyalAaPve2Fi659JOideA57IbqJRx4ksLzNxxrFHL0Q7gpkq2dxQ5i5eXu0TZaKOSk1RdrKRiXtOuZApKsiffME7nrEaxhUcgy3meNDHnQ/s1600/Wihara+Mahavira.jpg
Wihara, umumnya berbentuk seperti banguna biasa aja, malah kadang ada yang bentuknya seperti rumah tingkat atau gedung besar seperti Wihara Mahavira Graha di Ancol, semua yang pernah naik tol melintas di depan Ancol pasti pernah liat Wihara ini, dengan patung besar di atas gedungnya (di lantai 5).
Perbedaan yang paling dasar sebenernya adalah, Wihara itu untuk umat Budha, sedangkan Klenteng atau Miao atau Bio, itu untuk aliran Konghucu, nah karena di Indonesia waktu Orde baru sempet terjadi pelarangan atas budaya Tionghoa termasuk didalamnya keberadaan Klenteng, makanya banyak Klenteng yang mengubah namanya (Di-Indonesia-kan) menjadi Wihara, misalnya Klenteng Jin De Yuan di petak sembilan, salah satu Klenteng tertua di Jakarta, mengindonesiakan namanya menjadi Wihara Dharma Bhakti.
Wihara umumnya tidak memiliki banyak patung, biasanya cuma patung Budha aja, atau patung Kwan Yin, sementara kalo di Klenteng itu banyak banget patung2 dewa dan lilin2 besar. Di Wihara juga biasanya umat beribadah dengan berjemaat, beramai2 dan ada jam2 ibadahnya sedangkan Klenteng, umat bisa beribadah sendiri2, bisa pasang Dupa sendiri, dan umumnya ibadahnya ada flow nya, dari satu dewa ke dewa yang lain yang ada di altar yang beda2 pula. Keliatan lagi kan bedanya nih, yang satu agama Budha, yang satu itu kepercayaan Konghucu/Tao.

Jadi Perbedaan antara Klenteng dan Vihara adalah:
Wihara :
1.Tempat Ibadah Agama Budha
2. Bentuknya lebihModern (umumnya)
3. Patungnya sedikit, biasanya cuma patung Budha
4. Ibadah secara berjemaat

Klenteng :
1. Tempat Ibadah Aliran Konghucu
2. Berarsitektur Tradisional Cina dengan dominasi warna merah dan ornamen2 naga, lampion, dll
3. Ada tempat pembakaran kertas (ini buat bakar duit2an yang katanya dikirim buat arwah leluhur)
4. Banyak patung dewa-dewi dari yang kecil sampe yang gede
5. Ibadah bisa secara individu

Sumber: http://www.cool4myeyes.com/2013/11/wihara-vs-klenteng.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Klenteng


Tidak ada komentar:

Posting Komentar