Minggu, 03 Januari 2016

KITAB-KITAB SUCI AGAMA HINDU

Ajaran agama dalam Hindu didasarkan pada kitab suci atau susastra suci keagamaan yang disusun dalam masa yang amat panjang dan berabad-abad, yang mana di dalamnya memuat nilai-nilai spiritual keagamaan berikut dengan tuntunan dalam kehidupan di jalan dharma. Di antara susastra suci tersebut, Weda merupakan yang paling tua dan lengkap Dalam mempelajari Weda, mungkin pertanyaan inilah yang pertama-tama timbul dalam pikiran “Apakah itu Veda?”. Satu-satunya pemikiran yang secara tradisional  yang kita miliki adalah yang mengatakan bahwa Weda adalah kitab suci agama Hindu. Apabila yang kita maksudkan kitab suci maka Weda adalah merupakan buku atau kitab, kita tidak membicarakan isinya, kita hanya melihat wujudnya. Buku itu berisikan tulisan-tulisan, disusun rapi, ada penulisnya, ada pemikirannya dan ada pula isinya berupa ajaran-ajaran. Buku adalah benda atau barang cetakan. Tetapi tidak semua barang cetakan atau buku dapat kita namakan Weda.
Sebagai kitab suci agama Hindu artinya bahwa buku itu diyakini dan dipedomani oleh umat Hindu sebagai satu-satunya sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari ataupun untuk melakukan pekerjaan tertentu. Dan dinyatakan sebagai kitab suci karena sifat isinya dan merupakan wahyu Tuhan yang dianggap Maha Suci. Apapun yang diturunkan sebagai ajaran oleh Tuhan kepada umat manusia semuanya itu merupakan ajaran suci. Lebih-lebih isinya memberi bimbingan tentang bagaimana hidup suci. Kata Veda bearasal dari urat kata kerja ‘Vid’ yang artinya mengetahui dan veda berarti pengetahuan,dalam pengertian simantik veda berarti pengetahuan suci,kebenaran sejati,pengetahuan tentang ritual,kebijaksanaan yang tertinggi,pengetahuan spiritual sejati tentang kebenaran abadi,ajaran suci atau kitab suci sumber ajarran agama hindu. (Titib,2011:17) Kitab suci Weda diterima langsung oleh Para Maharsi yang dikenal dengan sebutan Sapta Rsi. Ketujuh Maharsi  itu ialah maharsi Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri,Bhradwaja,Wasistha,dan Maharsi Kanwa. Veda terdiri dari kitab Sruti dan Smerti berikut beberapa pembagian kitab suci Veda :
1.      Sruti (kitab yang merupakan wahyu Tuhan yang Maha Esa yang diterima oleh para Maharsi)
2.      Reg Veda (isinya berupa kumpulan mantra-mantra)
3.      Sama Veda (Isinya kumpulan mantra-mantra yang memuat umum nyanyian Lagu-lagu pujaan yang dinyanyikan pada waktu pelaksanaan upacara)
4.      Yajur Veda (Isinya kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yadnya , pokok ajaranya ada dua macam Yajur veda hitam dan Yajur veda putih)
·         Yajur Veda hitam (Krşņa YajurVeda) yang terdiri atas beberapa resensi a.l. Taiyiriya samhita dan Maitrayanisamhita.
·         Yajur Veda putih (Śukla yajurVeda). yang juga disebut Wajasaneji samhita.
5.      Atharwa Veda Isi kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis (atharwan).
6.      Smerti (kelompok Veda yang disusun kembali berdasarkan ingatan)
7.      Wedangga (kitab  yang  berisi  petunjuk-petunjuk  tertentu  untuk  mendalami  Veda.)
8.      Shiksa (Ilmu Phonetika)
·         Vyakarna (ilmu tata bahasa)
·         Nirukta (Yakni  ilmu  yang  menjelaskan  tentang  etimologi  kata-kata)
·         Chanda (cabang Veda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut lagu)
·         Jyotisha (ilmu astrologi)
·         Kalpa (Kitab mempelajari tentang Upacara Agama)
9.      Upaveda
·         Ayurveda (adalah kitab-kitab yang menurut materi isinya menyangkut bidang ilmu kedokteran)
·         Dhanur Veda (seni bela diri dan persenjataan)
·         Gandharva Veda (seni music,sajak,dan tari)
·         Arthaveda (ilmu tentang politik atau ilmu tentang pemerintihan)
10.  Purana (Jenis ini merupakan kumpulan ceritera-ceritera kuno yang isinya memuat tradisi tampat setempat)
·         Mahapurana ( oleh  Maharsi  Vyasa ) Mahapurana  berjumlah  18  buah,  antara  lain : Visnu.  Narada,  Bhagavata,  Garuda,  Padma,  Varaha,  Brahmanda,  Brahmavaivarta,  Markandeya,  Bhavisya,  Varuna,  Brahma,  Matsya,  Kurma,  Lingga,  Siva,  Agni,  Skanda.
·         Upapurana Upapurana  juga  berjumlah  18,  antara  lain :  Sanatkumara,  Narasimha,  Brhannaradiya,  Siva,  Durvasa,  Kapila,  Manava,  Varuna,  Kalika,  Mahesvara,  Samba,  Saura,  Parasara,  Devi  Bhagavata,  Aditya,  Vasistha,  Visnu  Darmottara,  Ausanasa.
11.  Itihasa (epos yang terdiri atas dua macam yaitu ramayana dan Mahabharata)
12.  Nibandha (memuat  banyak  aturan  yang  mencakup  sistem  atau  cara  pemujaan  terhadap  Tuhan)
13.  Sarasamuscaya (kitab suci sebagai tuntunan bagi mereka yg sudah melewati grehasta asrama)
14.  Bhasya (Berisi  tentang  komentar  terhadap  buku  Yogasutra ( Patanjali ).  Buku  ini  ditulis  oleh  Bhojaraja.)
15.  Uttaramimamsa (Kitab-kitab  ini  membahas Aranyaka dan  Upanisad)
16.  Shrauta Sutra (membahas tentang berbagai cara pemujaan, pemeliharaan atau melakukan penghormatan kepada Triagni, yaitu Daksiagni, Ahawaniyagni, dan Grhapatyagni)
17.  Shulwa Sutra (memuat tentang peraturan-peraturan mengenai tata cara membuat tempat peribadatan (Pura, Candi), bangunan-bangunan lain)
18.  Dharma Sutra (memuat tentang aturan dasar yang mencakup bidang hokum, agama, kebiasaan atau Acara dan Sistacara, dan sebagainya)
19.  Sthapatya Veda ( ilmu arsitektur,seni pahat,ilmu geomansi)
20.  Upanishad (himpunan mantra-mantra yang membabas berbagai aspek teori mengenai ke-Tuhan-an)
21.  Aranyaka (Kitab suci yang menguraikan falsafah agama hindu serta sifat-sifat Tuhan)
22.  Brahmana (kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan upacara yajna)

Beberapa jenis Lontar-lontar :

Lontar-lontar Tattwa ,
Lontar-lontar ini memuat ajaran Ketuhanan, disamping itu juga memuat ajaran tentang penciptaan alam semesta, ajaran pelepasan (moksa) dan sebagainya.sebagian besar lontar-lontar tattwa ini bersifat siwaistik (sivaisme) dan beberapa diantaranya telah dikaji secara kritis oleh beberapa sarjana.Lontar-lontar jenis ini antara lain :
a.      Bhuwana kosa
b.      Ganapati tattwa
c.      Jnana sidhanta
d.      Bhuana Sangksepa
e.      Sanghyang Mahajnana
f.      Tattwa Jnana
g.     Wrhaspati tattwa



Lontar-lontar ethika
Lontar-lontar jenis ini berisi ajaran tentang ethika,kebijakan tuntunan untuk menjadi orang sadhu yaitu orang arif dan bjaksana,berbudi luhur,berpribadi mulia dan berhati suci. Yang termasuk Lontar ini antara lain:
a.      Sarassamuscaya

b.      Slokantara

sumber: Makalah Diskusi kelompok Mata Kuliah Perbandingan Agama

Sabtu, 02 Januari 2016

PERBEDAAN KATOLIK DAN KRISTEN PROTESTAN

PERBEDAAN KATOLIK DAN KRISTEN PROTESTAN

“Kristen”. Kristen didefinisikan sebagai agama yang dibawa Yesus Kristus (Nabi Isa kalo dalam Islam). Agama Kristen pecah menjadi tiga aliran (gereja) karena perbedaan pendapat para pengikutnya, yaitu Kristen Ortodoks (misalnya Kristen Koptik yang ada di Mesir), Kristen Katolik, dan Kristen Protestan. Kesalahpahaman lain tentang agama Kristen bahwa kami mengakui ada tiga Tuhan. Itu salah besar. Sama seperti Islam dan Yahudi, Kristen mempercayai hanya ada satu Allah atau Tuhan. Kristen adalah agama Monoteisme. Hanya bedanya, Kristen mengakui satu Tuhan tersebut memiliki tiga pribadi, yakni Bapa (Sang Pencipta), Putra (Yesus Kristus, Tuhan yang menjelma menjadi manusia), dan Roh Kudus (Tuhan yang ada di hati tiap manusia). Namun ketiganya tetap satu kesatuan yang disebut Tritunggal. 
Agama Katolik dan Protestan berpisah karena perbedaan2 mereka yang sudah nggak bisa disatukan lagi. Berikut ini perbedaan antara kedua agama tersebut:
1. Katolik mengakui Paus, Protestan tidak 
Ini adalah perbedaan paling utama antara Kristen Protestan dan Katolik. Paus adalah pemimpin tertinggi umat Katolik. Paus bertahta di Vatikan, Roma. Paus pertama adalah St. Petrus, pemimpin dari ke-12 murid Yesus. Dari kemunculan agama Kristen sejak abad pertama hingga sekarang sudah ada sekitar 300-an Paus. Paus sekarang adalah Paus Fransiskus I yang  menggantikan Paus Benedictus XVI. Namun agama Protestan tidak mengakui Paus dan tidak memiliki pemimpin tertinggi. Alasannya bisa ditelusuri dari abad pertengahan di Eropa. 
Pada zaman itu, Paus Leo X ingin membangun gereja terbesar dan terindah di dunia yang disebut Basilika St. Petrus di Vatikan (sampai sekarang gerejanya masih ada). Paus Leo X kemudian melakukan hal-hal yang sebenarnya nggak sesuai dengan ajaran Katolik sendiri untuk mencukupi dana pembangunan gereja tersebut, salah satunya dengan menjual surat pengakuan dosa. Hal ini diprotes oleh seorang pendeta bernama Martin Luther yang akhirnya memutuskan untuk memisahkan diri dari gereja Katolik. Karena memprotes gereja Katolik, maka pengikut Martin Luther kemudian disebut “Protestan”. 

2. Orang Katolik membuat tanda salib, orang Protestan tidak 
Cara termudah membedakan yang mana orang Katolik dan yang mana orang Protestan adalah dengan memperhatikan saat mereka mau makan. Sebelum makan, biasanya orang Katolik membuat tanda salib, sedangkan orang Protestan tidak (cuma berdoa aja biasa). Tanda salib ini digunakan sebelum dan sesudah berdoa. Tanda salib dibuat dengan tangan telunjuk kanan menyentuh dahi – dada – bahu kiri – bahu kanan secara urut. 

3. Perbedaan kitab suci 
Apakah nama kitab suci orang Kristen? Aku sering “gubrak” kalo denger ada yang jawab kitab suci agama Kristen itu Injil. Sebenarnya nama kitab suci orang Katolik dan Protestan itu sama, yaitu Alkitab. Injil hanyalah sebagian kecil dari Alkitab yang khusus menceritakan kehidupan Yesus. Nah, Alkitab orang Katolik dan Protestan ternyata berbeda. Alkitab Katolik lebih tebal daripada Alkitab Protestan soalnya di dalam Alkitab Katolik ada tambahan 12 kitab yang dinamakan Deutero-Kanonika. Kitab-kitab tersebut nggak diakui kebenarannya di agama Protestan. Implikasi dari nggak diakuinya kitab2 ini, orang Protestan tidak mempercayai adanya “Api penyucian” atau “Purgatory” (wilayah di antara surga dan neraka) yang dipercayai oleh orang Katolik soalnya doktrin ini cuma ada di kitab Deutero-Kanonika. 

4. Masalah penafsiran kitab suci 
Kalo kitab sucinya aja udah beda, apalagi penafsirannya. Dalam Katolik, orang biasa nggak boleh menafsirkan kitab suci. Satu-satunya yang boleh menafsirkan kitab suci hanyalah Magisterium, yaitu para ahli2 agama yang berpusat di Roma. Orang-orang Katolik di seluruh dunia tinggal mengikuti aja penafsiran Magisterium tersebut dan nggak boleh menafsirkan kitab suci menurut pengertian mereka sendiri. Sedangkan menurut ajaran Protestan, semua orang punya hak yang sama dalam menafsirkan kitab suci, nggak dimonopoli pemuka2 agama aja. 
Sekilas keliatannya lebih enak ajaran Protestan ya, soalnya lebih bebas. Namun ternyata ada dampak signifikannya. Umat Katolik di seluruh dunia lebih bersatu karena memiliki satu pendapat yang sama tentang kitab suci. Jadi agama Katolik tuh cuma ada satu di dunia ini dan nggak terbagi-bagi menjadi aliran-aliran lain. 
Sebaliknya kaum Protestan yang kalo diitung-itung sebenarnya jumlah pengikutnya lebih banyak dari Katolik, terpecah-pecah menjadi aliran-aliran yang lebih kecil yang disebut “denominasi”. Aliran-aliran ini muncul karena perbedaan penafsiran antara satu kelompok dengan kelompok lain, misalnya ada GPIB, Kharismatik, Pentakosta, Metodis, Baptis (GBI), Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Batak (HKBP), Adven, Mormon, dan lain-lain. 
Implikasi praktisnya, orang Katolik bisa bebas beribadat di gereja Katolik manapun. Mau di Jakarta, Bandung, Malang, Manado, New York, terserah deh soalnya ajarannya sama Tapi orang Protestan biasanya hanya pergi ke satu gereja yang sama seumur hidupnya. Misalnya penganut Baptis harus pergi ke gereja GBI yang mungkin jaraknya 15 kilometer dan nggak bisa pergi ke gereja GPIB yang letaknya cuma di depan rumah soalnya ajarannya beda (walaupun keduanya sama2 gereja Protestan). Bahkan nggak jarang, antara denominasi Protestan yang satu dengan yang lain berselisih paham gara2 perbedaan pandangan itu. 

5. Pemuka agama Katolik memiliki hierarki (tingkatan), sedangkan Protestan tidak 
Para pemuka agama Katolik memiliki hierarki sebagai berikut: romo/pastur – uskup – kardinal – paus. Dengan adanya tangga hierarki itu, para pemuka agama Katolik bisa naik jabatan, bahkan bisa jadi Paus. Semua Paus juga dulunya berawal dari romo biasa kok. Akan tetapi, pemuka agama Protestan (pendeta) tidak memiliki hierarki semacam itu. 
Karena pemuka agama Katolik ada hierarkinya, maka gereja Katolik juga punya hierarki, yaitu kapel (gereja kecil) – gereja paroki (tempat kedudukan pastur) – katedral (tempat kedudukan uskup/kardinal) – basilika (tempat kedudukan paus). Semakin tinggi tingkatannya biasanya ukurannya juga semakin besar. Sedangkan gereja Protestan nggak punya hierarki. Jadi, biasanya yang namanya katedral itu gereja Katolik (walaupun ada juga beberapa gereja Protestan yang pakai istilah katedral). 

6. Pemuka agama Katolik tidak boleh menikah, sedangkan Protestan boleh 
Para pemuka agama Katolik mulai dari pastur hingga Paus nggak boleh menikah alias hidup membujang selamanya. Istilahnya dalam Katolik “hidup selibat”. Hal ini agar beliau2 bisa berkonsentrasi dalam mengajarkan agama Katolik. Tapi dalam gereja Protestan, pendeta diperbolehkan menikah. 

7. Perempuan bisa menjadi pemuka agama dalam Protestan, sedangkan dalam Katolik dilarang 
Dalam Katolik hanya laki-laki yang boleh pastur, sedangkan perempuan tidak boleh. Sedangkan dalam Protestan, baik laki-laki dan perempuan diberikan hak yang sama menjadi pendeta (namun lebih seringnya kita melihat pendeta laki-laki). Namun dalam agama Katolik, wanita yang ingin mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan dapat menjadi suster (biarawati). Syarat menjadi suster sama dengan syarat menjadi pastur, yaitu nggak boleh menikah (makanya sayang juga kalo liat ada suster cantik hehehe). Seorang suster juga harus memakai kerudung seumur hidupnya. Bahkan di negara2 Barat, pakaian suster yang serba tertutup ini sekilas mirip banget ama jilbab. Suster ini dulu biasa bekerja sebagai perawat, karena itulah ada kebiasaan di negara kita untuk memanggil perawat dengan sebutan “suster”. 

8. Perbedaan peribadatan
 
Peribadatan orang Katolik disebut misa, sedangkan peribadatan orang Protestan disebut kebaktian. Keduanya berbeda dalam hal isi maupun tata cara pelaksanaannya, walaupun sama-sama dilaksanakan pada hari Minggu. 

9. Katolik mengkultuskan Bunda Maria, sedangkan Protestan melarang 
Nah, kalo tadi perbedaan Katolik dan Protestan di permukaan, sekarang kita akan lebih menyentuh ke inti ajarannya (cailah bahasanya, kayak faham2 aja hehehe). Umat Katolik sangat mengkultuskan Bunda Maria, yaitu ibunda dari Yesus Kristus. Umumnya yang namanya orang Katolik memang sangat mencintai dan menghormati Bunda Maria. Sebagai penghormatan kepada Bunda Maria, dalam agama Katolik ada kebiasaan berdoa rosario (semacam tasbih dengan liontin salib) dan berziarah ke Goa Maria setiap bulan Mei dan Oktober. Tapi di Protestan, nggak ada kebiasaan semacam itu karena ajarannya memang melarang pengkultusan pada Bunda Maria. Jadi kalo ada yang pakai rosario ataupun pergi ke Goa Maria bisa dipastikan dia adalah orang Katolik. 

10. Katolik mengakui para orang kudus (santo-santa) sementara Protestan tidak
Para orang kudus (“saint” dalam bahasa Inggris, disingkat “St” dan ditaruh di depan nama) merupakan orang-orang yang memiliki iman yang sangat kuat sehingga dipercaya sudah masuk surga. Orang kudus laki-laki disebut santo, sementara yang perempuan disebut santa. 
Nama-nama para saint ini biasanya digunakan sebagai nama gereja, misalnya gereja Santa Maria, gereja Santo Petrus, dan lain-lain. Para saint ini punya hari perayaannya sendiri2 (misalnya hari raya St Valentine dirayakan tiap 14 Februari). Nama-nama para saint ini juga digunakan sebagai nama baptis dengan harapan ketika dewasa, mereka bisa meneladani para orang kudus yang namanya dipakai tersebut. Nama-nama para santo dalam agama Katolik biasanya diakhiri –us, misalnya Petrus, Paulus, Fransiskus, dan lain-lain. 
Dalam agama Protestan, pemujaan pada para santo/santa dilarang keras. Bahkan orang Protestan umumnya menggunakan nama-nama nabi, bukannya nama-nama santo/santa sebagai nama baptisnya, seperti Abraham, Samuel, Daniel, dan lain-lain. 

11. Katolik boleh menggunakan patung, sedangkan Protestan tidak 
Gereja Katolik biasanya dihias dengan patung-patung, entah itu patung Yesus, Bunda Maria, atau para santo/santa, hingga patung malaikat. Maksudnya agar punya pandangan seperti apa mereka itu (nggak abstrak). Akan tetapi, kaum Protestan mengharamkan penggunaan patung dalam gereja soalnya dianggap berhala. Nah implikasi dari pelarangan patung ini, salib Katolik memiliki patung Yesus di tengahnya, sedangkan salib Protestan hanya salib biasa tanpa patung di tengahnya. Jadi bisa lah kalian membedakan apakah seseorang itu Katolik atau Protestan dari salib di rumahnya. 

12. Katolik mengakui 7 sakramen, sementara Protestan hanya 2 
Sakramen adalah bentuk upacara suci yang wajib dilakukan penganut Kristiani sepanjang hidup mereka. Gereja Katolik mengakui ada 7 sakramen, yaitu Baptis (masuk agama Kristen), Krisma (diberikan pas menginjak remaja), Ekaristi (yang biasa dilakuin umat Katolik di gereja tiap hari Minggu), Imamat (pentahbisan menjadi pastur/romo), Pernikahan, Pengakuan Dosa, dan Pengurapan Orang Sakit (diberikan saat sakit parah dan hampir meninggal). Namun dalam gereja Protestan, hanya diakui dua sakramen, yaitu Baptis dan Ekaristi. Sakramen Ekaristi dalam ajaran Protestan juga tidak dilakukan setiap hari Minggu, namun hanya pada perayaan hari-hari besar saja.


Sumber:http://mengakubackpacker.blogspot.co.id/2012/10/perbedaan-katolik-dan-kristen-protestan.html 

PERBEDAAN ANTARA KLENTENG DAN VIHARA

KLENTENG
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f5/Klenteng_Jin_De_Yuan%2C_Glodok%2C_Jakarta.jpg/300px-Klenteng_Jin_De_Yuan%2C_Glodok%2C_Jakarta.jpg
Klenteng atau kelenteng (bahasa Hokkian: miao) adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia pada umumnya. Dikarenakan di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional Tionghoa sering disamakan sebagai penganut agama Konghucu, maka klenteng dengan sendirinya sering dainggap sama dengan tempat ibadah agama Konghucu. Di beberapa daerah, klenteng juga disebut dengan istilah tokong. Istilah ini diambil dari bunyi suara lonceng yang dibunyikan pada saat menyelenggarakan upacara.
Kelenteng adalah istilah “generic” untuk tempat ibadah yang bernuansa arsitektur Tionghoa, dan sebutan ini hanya dikenal di pulau Jawa, tidak dikenal di wilayah lain di Indonesia, sebagai contoh di Sumatera mereka menyebutnya bio; di Sumatera Timur mereka menyebutnya am dan penduduk setempat kadang menyebut pekong atau bio; di Kalimantan di etnis Hakka mereka sering menyebut thai Pakkung, pakkung miau, shinmiau. Tapi dengan waktu seiring, istilah ‘kelenteng’ menjadi umum dan mulai meluas penggunaannya.
Klenteng bagi masyarakat Tionghoa tidak hanya berarti sebagai tempat ibadah saja. Selain Gong-guan (Kongkuan), Klenteng mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan komunitas Tionghoa dimasa lampau.

ASAL MULA KLENTENG
Klenteng dibangun pertama kali pada tahun 1650 oleh Letnan Kwee Hoen dan dinamakan Kwan Im Teng 觀音亭. Klenteng ini dipersembahkan kepada Kwan Im(觀音dewi pewelas asih atau Avalokitesvara bodhisatva Dari kata Kwan Im Teng inilah orang Indonesia akhirnya lebih mengenal kata Klenteng daripada Vihara, yang kemudian melafalkannya sebagai Klenteng hingga saat ini. Klenteng juga disebut sebagai bio yang merupakan dialek Hokkian dari karakter (miao). Ini adalah sebutan umum bagi klenteng di Republik Rakyat Tiongkok.
Pada mulanya, klenteng adalah tempat penghormatan pada leluhur "Ci" (rumah abuh) atau dewa, masing-masing marga membuat "Ci" untuk menghormati para leluhur mereka sebagai rumah abuh. Para dewa-dewi yang dihormati tentunya berasal dari suatu marga tertentu yang pada awalnya dihormati oleh marga mereka. Seiring perkembangan zaman, penghormatan kepada dewa-dewi yang kemudian dibuatkan ruangan khusus yang dikenal sebagai klenteng yang dapat dihormati oleh berbagai macam marga, suku. Di dalam klenteng bisa ditemukan (bagian samping atau belakang) dikhususkan untuk abuh leluhur yang masih tetap dihormati oleh para sanak keluarga masing-masing. Ada pula di dalam klenteng disediakan tempat untuk mempelajari ajaran-ajaran atau agama leluhur seperti ajaran-ajaran KonghucuTaoisme, dan bahkan ada pula yang mempelajari ajaran Buddha. Klenteng selain sebagai tempat penghormatan para leluhur, para dewa-dewi, dan tempat mempelajari berbagai ajaran, juga digunakan sebagai tempat yang damai untuk semua golongan tidak memandang dari suku dan agama apapun.
Klenteng adalah sebutan umum bagi tempat ibadat orang Tionghoa sehingga klenteng sendiri terbagi atas beberapa kategori yang mewakili agama Taoisme , Konghucu , Buddhisme , Agama Rakyat atau Sam Kaw yang masing-masing memiliki sebutan tempat ibadat yang berbeda-beda

KLENTENG VS VIHARA PADA ORDE BARU
Pada masyarakat awam, banyak yang tidak mengetahui perbedaan dari klenteng dan vihara. Klenteng dan vihara pada dasarnya berbeda dalam arsitektur, umat, dan fungsi. Klenteng pada dasarnya beraritektur tradisional Tionghoa dan berfungsi sebagai tempat aktivitas sosial masyarakat selain berfungsi sebagai tempat spiritual. Vihara berarsitektur lokal dan biasanya mempunyai fungsi spiritual saja. Namun, vihara juga ada yang berarsitektur tradisional Tionghoa seperti pada vihara Buddhis aliran Mahayana yang memang berasal dari Tiongkok.
Perbedaan antara klenteng dan vihara kemudian menjadi rancu karena peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Imbas peristiwa ini adalah pelarangan kebudayaan Tionghoa termasuk kepercayaan tradisional Tionghoa oleh pemerintah Orde Baru. Klenteng yang ada pada masa itu terancam ditutup secara paksa. Banyak klenteng yang kemudian mengadopsi nama dari bahasa Sanskerta atau bahasa Pali yang mengubah nama sebagai vihara dan mencatatkan surat izin dalam naungan agama Buddha demi kelangsungan peribadatan dan kepemilikan, sehingga terjadi kerancuan dalam membedakan klenteng dengan vihara.
Setelah Orde Baru digantikan oleh Orde Reformasi, banyak vihara yang kemudian mengganti nama kembali ke nama semula yang berbau Tionghoa dan lebih berani menyatakan diri sebagai klenteng daripada vihara atau menamakan diri sebagai Tempat Ibadah Tridharma (TITD)

VIHARA
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNhWql6Y57mwNKq_dQ4ZHvGorR_6t1cL0dw2XyalAaPve2Fi659JOideA57IbqJRx4ksLzNxxrFHL0Q7gpkq2dxQ5i5eXu0TZaKOSk1RdrKRiXtOuZApKsiffME7nrEaxhUcgy3meNDHnQ/s1600/Wihara+Mahavira.jpg
Wihara, umumnya berbentuk seperti banguna biasa aja, malah kadang ada yang bentuknya seperti rumah tingkat atau gedung besar seperti Wihara Mahavira Graha di Ancol, semua yang pernah naik tol melintas di depan Ancol pasti pernah liat Wihara ini, dengan patung besar di atas gedungnya (di lantai 5).
Perbedaan yang paling dasar sebenernya adalah, Wihara itu untuk umat Budha, sedangkan Klenteng atau Miao atau Bio, itu untuk aliran Konghucu, nah karena di Indonesia waktu Orde baru sempet terjadi pelarangan atas budaya Tionghoa termasuk didalamnya keberadaan Klenteng, makanya banyak Klenteng yang mengubah namanya (Di-Indonesia-kan) menjadi Wihara, misalnya Klenteng Jin De Yuan di petak sembilan, salah satu Klenteng tertua di Jakarta, mengindonesiakan namanya menjadi Wihara Dharma Bhakti.
Wihara umumnya tidak memiliki banyak patung, biasanya cuma patung Budha aja, atau patung Kwan Yin, sementara kalo di Klenteng itu banyak banget patung2 dewa dan lilin2 besar. Di Wihara juga biasanya umat beribadah dengan berjemaat, beramai2 dan ada jam2 ibadahnya sedangkan Klenteng, umat bisa beribadah sendiri2, bisa pasang Dupa sendiri, dan umumnya ibadahnya ada flow nya, dari satu dewa ke dewa yang lain yang ada di altar yang beda2 pula. Keliatan lagi kan bedanya nih, yang satu agama Budha, yang satu itu kepercayaan Konghucu/Tao.

Jadi Perbedaan antara Klenteng dan Vihara adalah:
Wihara :
1.Tempat Ibadah Agama Budha
2. Bentuknya lebihModern (umumnya)
3. Patungnya sedikit, biasanya cuma patung Budha
4. Ibadah secara berjemaat

Klenteng :
1. Tempat Ibadah Aliran Konghucu
2. Berarsitektur Tradisional Cina dengan dominasi warna merah dan ornamen2 naga, lampion, dll
3. Ada tempat pembakaran kertas (ini buat bakar duit2an yang katanya dikirim buat arwah leluhur)
4. Banyak patung dewa-dewi dari yang kecil sampe yang gede
5. Ibadah bisa secara individu

Sumber: http://www.cool4myeyes.com/2013/11/wihara-vs-klenteng.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Klenteng


KAJANG DALAM UPACARA NGABEN DI BALI

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEht97aTMuPQy9mFwLhLVe71_5Vyo5ntTPRFHLHUB2Jta7N8IubrbdzrzwNWgixteMW1qhzlvGQqiZhIhhpQ1gBy3VuQdijs_D2O59bQWSnMPIp9nhmiHO2WDuLbP6bOevdd_EvVpwvdLyE/s1600/KAJANG+PASEK+SWASTA+GENI.png
Kajang berasal dari bahasa kawi yang artinya penutup, atau kerudung. Kajang adalah salah satu piranti upacara Pitra Yadnya, yaitu Pengabenan. Kajang ini terbuat dari selembar kain putih dengan panjang kurang lebih satu setengah meter (3 hasta). Dalam lembaran kain tersebut ditulisi dengan gambar-gambar tertentu dan aksara-aksara modre yang memiliki nilai-nilai magis sebagai simbol kelepasan. Dalam membuat kajang ini, tidak sembarang orang boleh membuatnya, biasanya orang yang berhak membuat adalah Sang Sulinggih (dwijati) , orang yang ditunjuk/mendapat anugrah dari Sulinggih untuk nyurat kajang, atau pemangku kawitan. Cerita awal tentang kajang ini terdapat dalam Kakawin Bharatayudha, diceritakan dalam kakawin tersebut Dewi Hidimbi meminta sebuah kerudung kepada Dewi Drupadi untuk menutup diri dalam perjalanan yang panas untuk menemui nenek moyang (leluhur) agar tidak mendapat rintangan dalam perjalannya menuju Swarga. Dalam kisah ini tersirat nilai yang sangat mendalam tentang fungsi, dan makna penggunaan kajang dalam upacara ngaben.
Kajang ini sesungguhnya ada dua macam, yaitu :
Kajang Siwa
Kajang Siwa adalah kajang yang diperoleh dari Sang Sulinggih (Pedanda, Sri Empu, Dukuh, Bhagawan, dll) yang muput upacara bersangkutan.
Kajang Kawitan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxO5aAwdFQ7JH7fp98ODKB9EvqXywt0WaTo-eqqqQATjIiKj_B-59ij5yPSsy7AGizWku_ERCgFSQJ425IvPLrvsnD5R1PVNekPkmCYTY-7yZDuq6NycwvI3eW23l8h3LOtswpOdzYKJw/s1600/KAJANG+PANDE+UTTAMA.png
Kajang Kawitan adalah kajang yang diperoleh dengan cara nunas kepada Bhatara Kawitan, di Pura Kawitan warga masing-masing. Kajang Kawitan ini akan berbeda antar setiap soroh/clan, seperti misalnya Kajang Pasek yang ada di gambar di atas, dan Kajang Pande yang ada di gambar dibawah.
 Kajang merupakan simbol atman yang dilukiskan dengan aksara dan gambar-gambar suci, penggunaan kajang ini dalam upacara pengabenan adalah diletakkan diatas jenazah/petinya seperti selimut. Sebelum dapat digunakan sesuai dengan nilai spiritualnya harus dilaksanakan upacara Ngajum Kajang, mengenai upacara ini akan diulas khusus pada artikel selanjutnya. Setelah selesai ngajum kajang barulah kajang ini dinyatakan telah memiliki nilai spiritual atau daya magis, pada saat pemberangkatan jenazah menuju kuburan (Setra/Patunon) kajang ini diletakkan di atas jenazah yang diusung menggunakan wadah/bade, dan nantinya akan dibakar bersama jenazah.
Kajang memiliki nilai spiritual sebagai tanda restu dari sanak keluarga, Sang Sulinggih, dan Bhatara Kawitan terhadap kepergian Sang Lina (mati) untuk manunggal kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. 
Identitas persaudaran di alam sana tidak ditentukan lagi oleh kelahiran dari ibu yang sama, dadia yang sama, melainkan dari kajang kawitan tersebut.
Identitas kajang kawitan yang mempersatukan kita nanti dengan saudara-saudara kita.
Selain itu, kajang kawitan juga menuntun supaya orang kembali ke hakikatnya.
Sekecil apapun upacara pengabenan, kajang menjadi sebuah keharusan karena merupakan sebuah identitas.

AKSARA SUCI DI DALAM KAJANG
Aksara suci yang ada dalam lukisan rerajahan kajang disebutkan adalah tanda legisigns, karena secara konvensional memiliki bentuk dan makna tertentu, yang dalam aktivitas sosial religius (upacara ngaben) berfungsi sebagai simbol komunikasi, secaraimmanent dan transendental yang dipedomani oleh masyarakat Hindu di Bali.
Bentuk aksara suci pada kajang dibedakan menjadi empat, yaitu :
·         Bentuk, berdasarkan kesejarahan aksara Bali (semua aksara suci tersebut tergolong bulat/bundar); 
·         Struktur aksara, aksara suara, pengangge aksara suara, aksara pangangge aksara wyanjana); 
·         Macam aksara wyanjana / wijaksara, dibedakan menjadi delapan, yaitu 
·         ekaksara | Ongkara
·         dwiaksara,| Purusha Prakerti
·         triaksara, | Pranawa "OM"
·         panca brahma.
·         panca aksara
·         dasaksara
·         catur dasaksara
·         saddasaksara; 
·         Aksara sebagai singkatan;atau berdasarkan tata letak/komposisi.
Beberapa fungsi aksara suci kajang : 
·         Fungsi referensial yaitu fungsi bahasa yang mereferensikan objek sebagai acuan makna. 
·         Fungsi emotif / ekspresif, yakni mengekspresikan bahasa sesuai dengan keinginan seperti pembuat kajang (pendeta / sulinggih) dan pengguna kajang (orang yang mengadakan upacara ngaben). Ada beberapa penggolongan kajang masing-masing memiliki aksara suci sebagai ciri pembeda: 
·         Kajang Brahmana, 
·         Kajang Ksatrya, 
·         Kajang Wesya,
·         Kajang Sudra, 
·         Kajang Pasek, 
·         Kajang Pande,
·         dll.
·         Fungsi metalinguistik merupakan fungsi bahasa yang dikaitkan dengan faktior di luar bahasa, dalam aksara suci tersebut secara metalinguistik fungsi bahasa dikaitkan dengan hakikat kehidupan, manusia sesuai keyakinan umat Hindu di Bali. Terlihat dari aksara suci yang dijadikan kode/sandi terkait dengan badan manusia (sarira kosha)
·         Fungsi magis, yaitu aksara suci yang dikaitkan dengan sesuatu yang sakral (nama-nama dewa sebagai manifestasi Tuhan).
Makna akasara suci APK meliputi:
·         Makna pemujaan kepada Tuhan:
·         Tuhan yang tunggal (esa), 
·         Tuhan sebagai pencipta Purusa Pradana
·         Tuhan sebagai Tri Murti,
·         Tuhan sebagai Panca dewata
·         Tuhan sebagai Siwa
·         dan Tuhan sebagai Dewata Nawa Sanga
·         Makna permohonan kepada Tuhan yaitu untuk :
·         Untuk mencapai kesucian, 
·         Mencapai kebahagiaan abadi, 
·         Mendapat perlindungan Tuhan, 

Sumber: http://sejarahharirayahindu.blogspot.co.id/2010/10/aksara-suci-dalam-kajang.html
http://nirmalajati.blogspot.co.id/2014/07/kajang.html